
Semarang – Komitmen Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Keguruan (FTIK) Universitas Islam Negeri (UIN) Walisongo Semarang dalam memperkuat internasionalisasi pendidikan tinggi kembali diwujudkan melalui penyelenggaraan Program Student Mobility dan Visiting Lecture di Malaysia pada 23–26 Juni 2026. Kegiatan yang diinisiasi Program Studi Magister Pendidikan Agama Islam (S2 PAI) ini menjadi bagian dari strategi penguatan mutu akademik, peningkatan kapasitas dosen dan mahasiswa, sekaligus perluasan jejaring kerja sama internasional dengan institusi pendidikan di Malaysia.
Delegasi dipimpin oleh Wakil Dekan III Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kerja Sama FTIK UIN Walisongo, Dr. H. Karnadi, M.Pd., didampingi Ketua Program Studi S2 PAI Dr. Nasirudin, M.Ag., Sekretaris Program Studi Dr. Sofa Muthohar, M.Ag., serta para dosen Prof. Dr. H. Raharjo, M.Ed.St., Dr. Agus Sutiyono, M.Ag., M.Pd., H. Alis Asikin, M.A., dan Dr. Lutfiyah, S.Ag., M.S.I. Bersama mereka turut serta 13 mahasiswa Magister PAI, yakni Waufiq Azizah, Idatul Junia Asdin, Isma Ulyana Arifatun Nasekhah, Nailil Maziyati, Muhammad Fatih, Muhammad Nuh Nurus Shobah, Wahyu Nadhifatul Hasanah, Saidatul Munazilah, Bayu Muzhaffar Hilmi, Nurul Laely Mahmudah, Rizka Febri Melindasari, Malikhah Nur Laili, dan Yusron Nur Hadi. Kehadiran dosen dan mahasiswa dalam satu delegasi mencerminkan implementasi tridarma perguruan tinggi secara terpadu melalui pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat dalam konteks internasional.
Program Student Mobility dirancang untuk memberikan global exposure kepada mahasiswa melalui pengalaman belajar di lingkungan akademik internasional, sementara Visiting Lecture menjadi wahana bagi dosen FTIK UIN Walisongo untuk berbagi kepakaran, memperluas kolaborasi riset, dan membangun jejaring akademik dengan perguruan tinggi luar negeri. Secara kelembagaan, kegiatan ini juga mendukung pencapaian Indikator Kinerja Utama (IKU) perguruan tinggi, khususnya pengalaman belajar mahasiswa di luar kampus, aktivitas dosen pada tingkat internasional, serta penguatan kemitraan global.
Agenda utama kegiatan berlangsung di Universiti Islam Selangor (UIS) dengan mengusung tema “Islamic Education for Global Citizenship: From Local Wisdom to Global Impact.” Selama berada di UIS, mahasiswa mengikuti sit in class, seminar internasional, diskusi akademik, presentasi artikel ilmiah, serta forum pertukaran pengalaman bersama sivitas akademika universitas tersebut. Kegiatan ini menjadi ruang dialog mengenai pengembangan Pendidikan Agama Islam di era global sekaligus mempertemukan perspektif akademik Indonesia dan Malaysia dalam menjawab berbagai tantangan pendidikan kontemporer.
Pada forum International Seminar, dosen-dosen FTIK UIN Walisongo mempresentasikan hasil penelitian yang merefleksikan perkembangan mutakhir kajian Pendidikan Agama Islam. Prof. Dr. H. Raharjo, M.Ed.St. mempresentasikan makalah AI as Learning Companion in Islamic Religious Education, sementara Dr. Karnadi menyampaikan kajian tentang Diagnostic Assessment in Islamic Religious Education. Dr. Agus Sutiyono memaparkan penelitian mengenai pengembangan instrumen asesmen ekoteologi berbasis Kurikulum Cinta, Dr. Nasirudin mengulas problematika makna etis-teologis dalam penyerapan bahasa Arab ke bahasa Indonesia, Dr. Sofa Muthohar membahas etika digital dalam pembelajaran agama Islam, sedangkan H. Alis Asikin menyampaikan kajian linguistik mengenai deradikalisasi teks keagamaan. Forum tersebut menjadi ruang bertukar gagasan sekaligus membuka peluang kolaborasi riset antara akademisi Indonesia dan Malaysia.
Mahasiswa Magister PAI juga memperoleh kesempatan mempresentasikan artikel ilmiah di hadapan para akademisi internasional. Salah satu artikel yang mendapat perhatian adalah “Pendidikan Agama Islam Berbasis Cinta: Transformasi Nilai Spiritual dalam Membangun Ekosistem Pendidikan Berkarakter” yang dipresentasikan oleh Nurul Laely Mahmudah, Rizka Febri Melindasari, dan Bayu Muzhaffar Hilmi. Selain itu, Yusron Nur Hadi, Saidatul Munazilah, dan Malikhah Nur Laili memaparkan inovasi pembelajaran melalui model Team Game Tournament bagi Generasi Alpha, sedangkan Nailil Maziyati, Muhammad Fatih, Muhammad Nuh Nurus Shobah, Wahyu Nadhifatul Hasanah, Idatul Junia Asdin, Isma Ulyana Arifatun Nasekhah, dan Waufiq Azizah mengangkat tema pemanfaatan Artificial Intelligence (AI) dalam pembelajaran Pendidikan Agama Islam. Presentasi tersebut menjadi pengalaman akademik yang berharga karena mahasiswa memperoleh masukan langsung dari akademisi internasional untuk penyempurnaan penelitian mereka.
Dalam kesempatan tersebut, Dr. Karnadi menegaskan bahwa internasionalisasi pendidikan harus memberikan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas lulusan.
“Melalui kegiatan ini, dosen dapat memperluas kolaborasi riset dengan mitra luar negeri, sementara mahasiswa memperoleh pengalaman belajar secara langsung dalam lingkungan akademik internasional. Kami berharap pengalaman ini mampu meningkatkan kompetensi akademik, memperluas wawasan global, serta mempersiapkan lulusan yang siap bersaing di tingkat internasional tanpa meninggalkan nilai-nilai keislaman,” ujarnya.
Rangkaian kegiatan berikutnya semula dijadwalkan berlangsung di Al Furqan School Malaysia sebagai lokasi pelaksanaan benchmarking dan Visiting Lecture. Namun, karena adanya kendala teknis di pihak mitra, agenda tersebut dialihkan ke The English College Johor Bahru, yang lebih dikenal sebagai Maktab Sultan Abu Bakar, salah satu sekolah menengah paling bergengsi di Malaysia dengan status Sekolah Kluster Kecemerlangan. Perubahan lokasi ini justru memberikan pengalaman yang lebih kaya bagi delegasi FTIK UIN Walisongo karena berkesempatan mengunjungi institusi pendidikan yang selama lebih dari satu abad dikenal sebagai tempat lahirnya banyak pemimpin nasional Malaysia.
Delegasi UIN Walisongo disambut langsung oleh Pengetua Kluster Kecemerlangan, Tuan Haji Abdul Razak Bin Abdul Samad. Dalam sambutannya, ia menjelaskan bahwa Maktab Sultan Abu Bakar yang berdiri sejak 21 Maret 1914 telah melahirkan berbagai tokoh penting Malaysia, mulai dari kalangan Kesultanan Johor, menteri, wakil perdana menteri, profesor, hingga pejabat tinggi negara. Reputasi tersebut menjadikan sekolah yang dikenal sebagai The English College itu sebagai salah satu ikon pendidikan Malaysia dalam mencetak generasi pemimpin bangsa.

Di Maktab Sultan Abu Bakar, mahasiswa S2 PAI FTIK UIN Walisongo tidak hanya melakukan observasi terhadap sistem pendidikan, tetapi juga melaksanakan praktik Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertaraf internasional melalui pendampingan pembelajaran Pendidikan Agama Islam bersama para guru profesional sekolah tersebut. Mahasiswa terlibat secara langsung dalam proses pembelajaran, berdiskusi mengenai strategi pedagogik, serta berinteraksi dengan peserta didik dalam suasana kelas yang dinamis dan kolaboratif. Kegiatan ini menjadi ruang implementasi ilmu yang diperoleh di bangku perkuliahan sekaligus media pertukaran praktik baik (best practices) antara calon pendidik Indonesia dan guru-guru Malaysia.
Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa memperoleh pengalaman autentik mengenai pengelolaan pembelajaran di sekolah unggulan, sementara para guru Maktab Sultan Abu Bakar berbagi praktik profesional dalam membangun budaya belajar yang berorientasi pada pembentukan karakter, kepemimpinan, dan prestasi peserta didik. Interaksi lintas budaya itu memperkaya wawasan pedagogik mahasiswa sekaligus memperlihatkan bahwa pengabdian kepada masyarakat pada era global dapat menjadi jembatan diplomasi akademik yang mempererat hubungan pendidikan antara Indonesia dan Malaysia.
Menurut Dr. Karnadi, pengalaman belajar di Maktab Sultan Abu Bakar memberikan inspirasi penting bagi pengembangan pendidikan di Indonesia.
“Pengalaman seperti ini menjadi sarana yang penting untuk membangun strategi pedagogi yang efektif dan berdampak bagi peserta didik. Proses pembelajaran tidak hanya diarahkan pada pencapaian akademik, tetapi juga pada pembentukan mindful learning, meaningful learning, dan joyful learning. Ketiga aspek tersebut merupakan bagian penting dalam pendekatan deep learning,” ungkapnya.
Bagi para mahasiswa, Student Mobility bukan sekadar perjalanan akademik ke luar negeri, melainkan proses pembentukan kompetensi sebagai calon pendidik dan peneliti yang memiliki perspektif global. Kesempatan berdiskusi dengan akademisi internasional, mempresentasikan hasil penelitian, hingga melaksanakan praktik pengabdian bersama guru-guru profesional memberikan pengalaman yang memperkuat kemampuan berpikir kritis, komunikasi ilmiah, adaptasi lintas budaya, serta jejaring profesional yang akan menjadi bekal pada masa depan.
Pelaksanaan program ini memperoleh legitimasi melalui Surat Tugas Rektor UIN Walisongo Semarang dan Persetujuan Perjalanan Dinas Luar Negeri dari Kementerian Sekretariat Negara Republik Indonesia. Dukungan tersebut menegaskan bahwa kegiatan Student Mobility dan Visiting Lecture merupakan bagian dari langkah strategis UIN Walisongo dalam memperkuat posisi sebagai perguruan tinggi Islam yang adaptif terhadap perkembangan pendidikan global.
Melalui rangkaian kegiatan di Universiti Islam Selangor dan The English College Johor Bahru (Maktab Sultan Abu Bakar), FTIK UIN Walisongo membuktikan bahwa internasionalisasi bukan hanya menghadirkan mobilitas akademik, melainkan membangun kolaborasi yang melahirkan pertukaran ilmu pengetahuan, penguatan penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat lintas negara. Dari ruang seminar hingga ruang kelas, dosen dan mahasiswa UIN Walisongo membawa semangat pendidikan Islam yang inklusif, kolaboratif, dan berorientasi global, sekaligus memperkuat diplomasi akademik antara Indonesia dan Malaysia.
Reporter : Sofa Muthohar, Yusron Nur Hadi dan Nurul Laely Mahmudah
